AGROFORESTRY semangka di KHDTK bukit suligi Riau
RANCANGAN ANGGARAN KEGIATAN PENANAMAN
TEHNIK CARA PEMBUATAN PLOT TANAMAN BUAH
RANCANGAN PEMBUATAN DEMPLOT TANAMAN HUTAN DAN BUAH
sumber: pengalaman pribadi penulis
Budidaya Matoa
MATOA ( pometia pinnata) adalah tanaman buah khas Papua yang terdiri dari 2 jenis yaitu:
1. Matoa kelapa
2. Matoa papeda
Dengan memilki ciri sebagai berikut :
A. Ciri-ciri pohon
B. Ciri-Ciri buah
C. Manfaat :
c1. Buah
c2. Pohon
A. Ciri-ciri pohon
1. Pohon matoa termasuk pohon yang memilki batang pohon tinggi, yaitu mampu hidup dengan ketinggian batang mencapai 18 meter.
Dengan ciri kulit batang dengan permukaan kasar ( seperti pohon rambutan) dan daun yang lebat.
B. Ciri-ciri buah
matoa memiliki kulit buah yang halus bercangkang ( seperti kulit kelengkeng) , pada waktu muda memiliki warna kulit hijau dan ketika buah telah matang akan berwarna agak kekuningan dan ada jg yang keunguan ( tergantung jenisnya) .
Matoa memiliki daging buah yang berwarna bening kenyal seperti buah kelengkeng, dengan rasa yang cukup manis karena memiliki banyak kadar gula,dan memiliki kandungan vitamin C dan vitamin E.
C. Manfaat
C1. Manfaat buah
memiliki kandungan vitamin C yang menawarkan anti antioksidant dan bagus untuk meningkatkan stamina tubuh.
Dari kandungan vitamin E dapat mempertahankan pembuluh arteri dengan begitu serangan jantung koroner dapat di cegah,dan dapat membantu keseimbangan kulit.
C2. Manfaat kulit dan daun
Banyak sebagian masyarakat yang menggunakan kulit dan daun dari pohon matoa sebagai obat alternatif pada saat demam, yaitu dengan cara merebus kulit dan daun matoa dengan air selanjutnya di gunakan untuk mandi.
C3. Manfaat batang
Karena memiliki batang yang dapat tumbuh besar,maka batang pohon matoa banyak di gunakan sebagai bahan bangunan dan kerajinan.
Sekian dulu...
Semoga bermanfaat bagi yang tertarik ingin usaha tanaman matoa.
Di edisi selanjutnya akan saya bagi tehnik budidaya nya, seperti yang telah kami lakukan.
Salam lestari....
Proses pembentukan Gaharu
Proses pembentukan gubal pada pohon penghasil gaharu hingga saat ini masih terus di teliti, Gubal gaharu diduga dapat terbentuk melalui proses infeksi cendawan yang masuk ke dalam jaringan pohon akibat adanya luka baik di sengaja (alami) maupun yang di sengaja (rekayasa). beberapa species Fusarium seperti F.oxyporum, F.bulbigenium dan F.lateritium telah berhasil di isolasi (santoso,1996). selain itu Rahayu(1999) menyatakan bahwa beberapa inokulan Acremonium sp. asal Gubal gaharu pada jenis Gyrinops verstegii (sin. A.filaria) dan A.malaccensis mampu menginduksi gajala pembentukan ggubal gaharu pada pohon penghasil gaharu jenis A.crassna, A.microcarpa pada umur muda. selanjutnya Rahayu (2007) menyatakan bahwa Acremonium sp. merangsang perubahan waena kayu dan pembentukan senyawa terpenoid. oleh sebab itu, perubahan warna kayu dan adanya senyawa terpenoid merupakan indikator efektifitas dan interaksi antara inokulan dalam pembentukan gubal gaharu.
Terbentuknya gaharu yang bermutu lebih tinggi kemungkinan akan dapat dicapai seiring dengan pengembangan penelitian jenis inokulan unggul yang terus dilakukan. secara teoristis keunggulan inokulan dalam menginduksi pembentukan gaharu berkaitan dengan jenis dan kemurnian mikroorganisme yang digunakan(mucharomah dan marantika, 2009). kehadiran cendawan lainya, khususnya cendawan pelapuk kayu justru akan mendegradasi kembali resin gaharu yang telah terdeposisi bahkan dapat menghancurkan sel-sel kayu sehingga gaharu yang mulai terbentuk menjadi hancur dan lapuk. dengan demikian maka penggunaan inokulan yang unggul dan tehknik inokulasi yang baik akan meningkatkan mutu gaharu yang dihasilkan dan mengefisienkan proses pruduksi(mucharromah,2011). selain itu , aroma gaharu dapat dipengaruhi oleh jenis pohon penghasilnya. dengan demikian bahwa tehknik inokulasi dan jenis inokulan yang tepat pada jenis pohon dalam kondisi tertentu serta waktu antara inokulasi dan panen yang lebih panjang, maka mutu gubal yang tinggi akan dapat dihasilkan(mucharromah,2008).
Nakanishi(1984) melaporkan bahwa ada tiga seskuiterpena yang memiliki aroma wangi, yaitu o-agarofuran, (-)-10epi-gamma-eudusmol, dan oksoagarospirol. selain seskuiterpena, gaharu dari A.malaccensis asal Indonesia mengandung komponen pokok minyak gaharu berupa kromon. kromon inilah yang menyebabkan aroma harum dari gaharu bila dibakar(burfield,2005). menurut konishi(2002)kromon dan turunanya berperan dalam menentukan mutu suatu gaharu.
sumber: materi ajar BDKpekanbaru yang di susun oleh Sentot Adi Sasmuko
Jenis gaharu
marga Aquilari terdiri dari 15 species, tersebar di daerah tropis asia mulai dari India,Pakistan,Myanmar,Lao PRD, Thailand, Kamboja,Cina selatan,Malaysia,Pilipina,Indonesia.6 diantaranya di temukan di Indonesia(A.malaccensis, A.microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A.cumingiana, A. filarial).ke enam jenis tersebut terdapat di seluruh kepulauan Indonesia kecuali Jawa, Bali, dan NTB.
Marga Gonystilus memiliki 20 species , tersebar di asia tenggara mulai dari Malaysia, Peninsula,Serawak,Sabah, Indonesia, Papua new guinea, Philipina, dan kepulauan Solomon dan Nicobar, sembilan species di antaranya terdapat di indonesia yaitu Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku dan Irian jaya.
marga Gyrinops memiliki 7 species, enam di antaranya tersebar di Indonesia bagian timur serta satu species terdapat di Srilanka, dalam perdagangan Gaharu di kenal sebagai agarwood, aloewood, atau eaglewood.
Menurut Sumarna (2002), Sidiyasa dan Suharti (1986), pohon-pohon penghasil Gaharu di Indonesia antaralain adalah:
-Aquilaria: Sumatera, Kalimantan
-A. hirta: Sumatera , Kalimantan
-A. filaria: Nusa tenggara, Maluku, Irianjaya
-A. microcarpa: Sumatera, Kalimantan
-A. agalloccha roxb: Sumatera, Jawa, Kalimantan
-A. becariana: Sumatera, Kalimantan
-A. secundana: Maluku, Irianjaya
-A. moszko
wskii: Sumatera
-A.tomentosa: Irianjaya
-Aetoxylon sympethalum: Kalimantan, Maluku, Irianjaya
-Enkleia malacensis: Irianjaya, Maluku
-Wikstroemia poliantha: Nusa tenggara, Irianjaya
-W. tenuriamis: Sumatera, Bangka, Kalimantan
-W.androsaemofilia: Kalimantan, NTT, Irianjaya, Sulawesi
-Gonstylus bancanus: Bangka, Sumatera, Kalimantan
-G. macrophillus: Kalimantan, Sumatera
-Girynops cumingiana: Nusa tenggara, Kalimantan
-G. rosbergii: Nusa tenggara
-G.verstegii: NTT, NTB
-G. moluccana: Maluku, Halmahera
-G. decipiens: Sulawesi tengah
-G.ledermanii: Sulawesi tengah
-G. salicifolia: Irianjaya
-G. audate: Irianjaya
-G. podocarpus: Irianjaya
sumber: bahan ajar BDK Pekanbaru oleh Sentot Adi Sasmuko
GAHARU
Gaharu adalah gumpalan berbentuk padat , berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil Gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia atau fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur (siran, 2011). bahwa gaharu (dalam bahasa inggris di kenal dengan nama agarwood atau eaglewood ) adalah kayu resin yang bernilai komersial cukup tinggi karena di gunakan sebagai dupa, bahan aditif minyak wangi, dan minyak eseensial untuk kegiatan keagamaan, bahkan untuk sehari-hari. Gaharu adalah hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi di bandingkan hasil hutan bukan kayu lainya, sehingga sangat potensial di kembangkan, harga pasar gaharu bervariasi tergantung mutunya,mulai dari rp300 ribu - 25 jt (sumarna, 2005). bahkan saat ini harganya telah berkisar rp150jt/kg untuk mutu super king.
Pada prinsipnya pemanfaatan gaharu adalah untuk pengobatan, incense, dan parfum(Barden, et al,2000). incense gaharu di gunakan dalam ritual kepercayaan dan upacara-upacara religious keagamaan, sebagai pengharum ruangan, sembahyang serta benda-benda rohani seperti rosario dan tasbih (barden, et al,2000). sementara itu dalam bidang pengobatan gaharu digunakan sebagai analgecik dan inti imflamantory dan diketahui bermanfaat untuk mengatasi berbagai seperti sakit gigi, ginjal, remathik, asma, diare, tumor, liver, diuretic, hepatitis, kanker, cacar, malaria, obat kuat pada masa kehamilan dan bersalin, juga memiliki sifat anti racun, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan (heyne, 1987)
kini keberadaan pohon penghasil gaharu di alam semakin menipis sebagai akibat perburuan yang agresif dan tidak bijaksana. cara ini telah mengancam kelestarian pohon gaharu di habitat alaminya. oleh karena itu, untuk mencegah punahnya pohon penghasil gaharu maka sejak tahun 1994 Aquilaria dan Gyrinops, dua genus penghasil gaharu terpenting telah masuk ke dalam daftar CITES (the convention on the international trade in endangered species of wild flora and fauna). Appendix II TRAFFIC-CITES-CP13 PROP.49(2004) telah mencatat terdapat 24 jenis yang termasuk dalam genus Aquilaria dan 7 jenis dalam Gyrinops, kedua genus ini dapat di temukan menyebar secara alami paling tidak di 12 negara termasuk bangladesh, butan, kamboja, indonesia, lao PRD, malaysia, myanmar, filipina, thailand, vietnam dan papua new guinea (Barden, et al, 2000). untuk mengantisipasi kemungkinan punahnya pohon penghasil gaharu sekaligus pemanfaatanya secara lestari, maka perlu dilakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa produksi untuk mempercepat produksi gaharu dengan tehknologi induksi dan inokulasi (situmorang, 2009)
saat ini pohon penghasil gaharu telah banyak di budidayakan di berbagai negara termasuk di indonesia seperti di daerah saya sendiri di propinsi riau, banyak pelaku usaha yang menawarkan kerjasama dengan masyarakat secara langsung dalam pola kemitraan ataupun kelompok tani.
bagi anda yang tertarik dengan budidaya gaharu dan belum banyak informasi yang di dapat seperti manfaat, jenis dan tata cara budidaya serta proses inokulasinya akan saya tulis di halaman berikutnya.
terimakasih.. wasalam.
sumber: materi ajar untuk BDKpekanbaru dlm acara pembentukan FK-PWGP se RIAU yg di susun oleh bpk Sentot Adi Sasmuko.










